Perjuangan Untuk Diri Sendiri (a Tribute to Donna)

June 26, 2005

Sebuah perjuangan membutuhkan motif, itu pasti, sebagaian besar dari kita mengedepankan urusan perut dan sekitarnya untuk melakukan segala sesuatu di dalam hidup ini, tapi masih ada juga yang tidak. Jarang memang, tapi kenyataan yang cukup jarang ini tidak sulit ditemui dalam lingkungan pergaulan gua.

Donna, Aloy, Citra
Citra, Aloy, Donna

Sebut namanya Donna (bukan nama samaran–red.), sahabat wanita yang berencana untuk menikah bulan oktober 2005 besok ini pertama gua kenal waktu kuliah di kampus jaket kuning di Depok. Meskipun kampus kita dipisahkan oleh sebuah Danau (gua di Teknik, dia di Sastra) tapi gua bersukur bisa kenal dia (jangan geer dulu don, hehehe), satu paket dengan brandalan dari Fakultas Sastra khususnya jurusan Diploma Belanda, yang kebetulan masih keinget ada Aloy, ada Boim, ada Eya, ada Ditta dan temen-temen angkatannya, ada hmmh..kebanyakan sih perempuan wekekekeke…

Gak panjang jangka waktu pergaulan kita semasa kuliah, mengingat gua waktu itu sangat dinamis dan punya banyak kesibukan yang dibuat-buat. Namun dari waktu yang sempit itu muncul banyak profil yang sedikit banyak bisa memberikan input ke bagaimana gua menjalankan hidup gua sendiri (meskipun tanpa gua sadari).

Kembali ke Donna, yang kebetulan banget tanggal lahirnya sama kayak gua, otomatis kita berzodiak sama, dan anehnya dalam banyak hal gua punya ide yang selaras dengan dia (bener gak Don?), bahkan dalam beberapa kasus, cara kita memandang sebuah permasalahan (sudut2nya) juga sama. Nah, padahal gua gak ambil pusing ama urusan zodiak, tapi ternyata pernah terbukti… gua gak bisa sebutin contoh, karena terus terang gua udah lupa, hehehe…

Selepas kuliah, gua Lost Contact, baik ke Aloy, apalagi Boim dan juga Donna, yang kemudian gua tau telah memutuskan untuk pindah ke Papua yang nun jauh di sana meninggalkan hingar bingar kehidupan Jakarta dan mengabdikan dirinya kepada keagungan Ilahi (Donna beragama Kristen). Entah kapan persisnya, tanpa gua tau prosesnya, tiba-tiba Donna telah terdorong untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat secara langsung buat orang banyak, yang menurut pengakuannya didasari oleh rasa kasih yang dihidayahkan Tuhan kepadanya.

Kadang disela-sela pengabdiannya dia mampir ke Jakarta, lepas kangen sama sahabat-sahabatnya di Jakarta (kadang gua juga diajak). Dalam salah satu kesempatan itu, persisnya malem Minggu kemaren kita ketemuan di salah satu Kafe di Plaza Ex yang sebenernya gak enak-enak banget buat ngobrol tapi, tempat yang kita tau jualan bir..hehe rupanya Donna kangen juga ama Bir…

Dari kesempatan yang sedikit, kita berkomunikasi, dan gua menyimpulkan untuk memberikan penghormatan gua kepadanya sebagai seseorang yang sudah berani untuk berjuang..berjuang untuk dirinya sendiri, melawan arus, mengikuti nurani, dan mendapatkan hidayah untuk mengabdi kepada Ilahi. Salut Don, May God be with You and your future husband, salam dari Nadin……

Leave a Reply