Menyimak blogger Doeljoni mengenai bekerja, menarik untuk gua kupas sedikit dari perspektif gua, karena nun dahulu kala pernah sekiranya gua membahas masalah ini ketika membuat skripsi, tentunya dari kajian pilosofis yang juga tidak terlalu mendalam. Kerja, bekerja (work dalam bahasa inggris) mengandung pengertian sebagai sebuah upaya untuk meraih sesuatu atau hasil (Ini terjemahan bebas dari kamus encarta dan oxford).
Sebuah contoh kenyataan yang masuk ke dalam kategori ini, “Komunitas yang bekerja untuk menghasilkan sistem operasi berbasis Personal Computer yang bersifat Open Source”, hasilnya; Sistem Operasi Open Source, bandingkan dengan kenyataan “Seorang Waria Pengamen (WP) bekerja untuk mendapatkan UANG sebesar 75rb Rupiah per hari demi memenuhi kebutuhan hidupnya”, apakah pemenuhan kebutuhan dari dimensi materi dalam hal ini uang demi pemenuhan kebutuhan fisik (primer, sekunder, tersier) termasuk dalam kategori sesuai dengan arti kata bekerja itu sendiri?.
Jawabnya mungkin ya, mengapa? karena pemenuhan kebutuhan yang beragam dan memiliki kerucutnya sendiri (refer ke piramida kebutuhan hidup manusia), termasuk didalamnya pemenuhan kebutuhan sang WP, dan komunitas tersebut. Dengan mudah ditebak sang WP berada di tingkat terbawah sementara komunitas menempati tingkat teratas (aktualisasi diri). Kalo gak salah ini teorinya Abraham Maslow yang membagi motivasi ke dalam 6 tingkatan hirarki; (1) physiological; (2) security and safety; (3) love and feelings of belonging; (4) competence, prestige, and esteem; (5) self-fulfillment; and (6) curiosity and the need to understand. Jadi semuanya harus dan mau tidak mau kembali ke motivasi yang sifatnya sangat personal dan berbeda-beda untuk setiap orang.
Kembali ke bekerja, merujuk pada Bang Maslow yangteorinya meskipun tidak secara universal dapat diterima namun secara sepintas gua bisa menerima, bekerja juga membutuhkan motivasi. Motivasi inilah yang nantinya, lagi-lagi menurut gua, akan menempatkan posisi seorang manusia dalam masyarakatnya. Seorang ilmuwan yang sangat termotivasi untuk meneliti tentang berbagai hal, meskipun besar kemungkinan tidak mendapatkan imbalan materi yang layak, pada waktunya sesuai dengan kompetensinya akan meninggalkan nama besar dan karya (hasil) yang akan diingat sepanjang sejarah. Sementara seorang WP yang meskipun dapat memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari harus menambah “dosa” karena dia akan menghalalkan caranya untuk meraih hasil yang diinginkannya seringkali tanpa melihat kepentingan orang lain (yang pasti gua akan menggerutu kalau lagi makan ada pengamen apalagi waria yang kalaupun suaranya merdu akan membuat gua menghentikan aktifitas makan gua untuk merogoh kantong ngambil duit gopek). Tidak jauh dari WP juga ada banyak buruh yang bekerja hanya untuk uang, yang notabene cuma trend sementara (entah samapai kapan) sebagai alat tukar. Bagaimana kalau suatu saat uang tidak laku?, bagaimana kalau perkembangan peradaban mengarah ke dunia tanpa uang?, manusia bisa makan kalau dia memiliki karya… (Apa gua kebanyakan mimpi :)). Tapi serius guys, Micheal Angelo miskin sampai akhir hayatnya, tapi sedikit dari kita yang tidak pernah mendengar namanya….
Untunglah, gua berprinsip.. “Uang bukan segalanya…”, kalau kita cukup berusaha, gak mungkin mati kelaperan ….
Ealah,
Saya baru nyadar kalo sini ngomongin Maslow juga. Saya juga tadi komen ttg ini di sini :).
Uang itu kan hanya efek samping.. efek samping aktualisasi diri.. hehe..
wow… bahasan yang cukup mendalam, bro’…
paragraf terakhir cocok sama doa : “..Ya Allah,.. letakkan lah dunia di tanganku, jangan dihatiku..”
[...] Tertarik dengan bahasan rekan-rekan semua (thx to Tajid Yakub atas umpan baliknya : Bekerja Untuk Karya), saya mencoba mengexplore sejenak mengenai aktualisasi diri ( [...]
keren bgt bo……
yang utama itu adalah semangatnya………….key!
@alu .. haha iya.. semangat (refleksi dari motivasi dan pencerminan diri kita) emang pastinya no.1