Dilarang Cukur J***** (Sebelum Naik Angkutan Umum)

July 23, 2005

Inget guyonan jadul kalo melihat orang lain berjalan dengan tangan agak renggang ke samping (sedikit macho dan cowboy style gitu)?. Pasti bulu keteknya tajem.., nah yang ini juga mirip-mirip kayak gitu, cuman yang tajem bukan bulu keteknya. Sebuah fenomena yang sangat mudah untuk ditemukan, terutama yang senantiasa berangkutan umum untuk berpindah tempat. Mulai kebayang belum kawan?, itu kalau kita naik angkutan umum yang kebanyakan kursinya sharing dan berderet, baik itu patas, mikrolet dan lain-lain… Iya kalo lagi kosong, kita tinggal geser sedikit ke samping menghindari persentuhan yang seringkali tidak diinginkan. Cuman kalau tempat duduk lagi penuh..walah, ujungnya sih gua ngalah, badan gua yang udah tipis ini terpaksa ditipisin lagi, paha dirapatkan sambil tertawa dalam hati ngelirik ke sebelah (hmmhh nih orang pasti abis cukur j***** …wekekekekke).

Pembicaraan ringan mengenai hal ini gua lakukan tempo hari bersama istri dalam perjalanan menuju kantor-kantoran kita di kawasan Mayestik. Jadi teringat kembali karena dulu gua sering melamunkan hal yang kurang-lebih sama dalam perjalanan menggunakan Kereta Api Listrik (KAL) jalur Depok-Cikini waktu sekretariat Mapala UI masih di Kampus UI Salemba. Bedanya, waktu itu kereta, yang ini Bis Kota, persamaannya, dua-duanya menyangkut ruang personal dan jarak intim gua dengan lingkungan sekitar yang berubah dari waktu ke waktu. Domain berpikirnya mulai dari keengganan gua untuk berdempet-dempet dengan orang lain yang tidak gua kenal, dan kekesalan gua terhadap semua orang (termasuk gua) yang mau aja disuruh dempet-dempetan…hehehehe gak ada pilihan lain…

Okeh, kembali ke masalah cara duduk yang tidak memperhatikan konteks, dari pembicaraan ringan yang singkat itu kita memutuskan untuk lebih keras berusaha dalam menginstropeksi diri kita masing-masing untuk lebih dapat memperhatikan keadaan sekitar dan sebisa mungkin untuk tidak menganggu orang lain selagi bisa, serta mengalah selagi bisa. Luas banget ya?, karena ujung-ujungnya masalah bulu yang tajem itu cuman contoh kecil dari ketidakpedulian seseorang terhadap kepentingan bersama, yang kalau dilakukan bersama dan dalam jangka waktu yang cukup lama akan dapat ditemukan dalam istilah “budaya” di buku-buku pelajaran SMA. Budaya duduk ngangkang mengganggu orang yang duduk di sebelah kita akan bergabung dengan budaya merusak fasilitas umum, budaya untuk sebisa mungkin tidak ikut antrian alias nyelak, budaya untuk merokok di ruangan ber-ac tanpa exhaust dengan tempelan dilarang merokok di depan mata, budaya untuk tetap duduk di kursi kita di bus way ketika istri gua yang lagi hamil empat bulan bergelantungan di hadapan, ckckckck … serta budaya kita yang lain sebagai masyarakat yang berbudaya……

3 Responses

  1. Yayan (mantan wiradha perpus ars)

    August 15th, 2005

    cukur apa jid? hahaha…
    anyway, selamat yah u/ pernikahan kalian berdua. Sorry baru ngucapin. Ini aja lagi iseng browsing, eh nemu blog elo. Salam buat nadin yeah

  2. wekeke, makasih Yan, sambungin juga doa buat calon bayi yang ada di perut Nadin .:D:D

  3. wakakakaka….*gulung2… ngebayangin rasanya aja udah tersiksaaaaaaaaaa…

Leave a Reply