Manfaat Masa Bimbingan (MABIM)
Sep 7, 2006 Thoughts
Berhubung dulu waktu awal masuk kuliah istilah yang digunakan oleh ikatan mahasiswa fakultas saya adalah “Masa Bimbingan” alias “Mabim”, maka sekarang terminologi ini saya gunakan untuk mewakili kegiatan-kegiatan sejenis yang umumnya diwajibkan oleh mahasiswa yang masuk terlebih dahulu kepada mahasiswa yang masuk belakangan pada awal dimulainya perkuliahan (seperti Ospek, dll.).
Sekedar melintas balik pengalaman-pengalaman yang terpaksa menjadi pembelajaran berhubung sudah dialami, dan sayangnya belum dapat melakukan apa-apa untuk memperbaiki.
Dalam karir kita sebagai manusia, ada individu-individu yang dengan sukses berhasil mereduksi dampak-dampak negatif sehingga apapun hal yang dialaminya mampu menyumbangkan sesuatu yang positif bagi individu tersebut.
Hal yang sama berlaku sebagai peserta dan di kemudian hari pelaku Mabim. Agak kurang masuk akal memang, saya dulu rela-rela saja diperlakukan non-manusiawi dengan ciri-ciri pelanggaran HAM yang jelas dan nyata, untuk tujuan yang (sesungguhnya) mulia. Masih simpang siur apa tujuannya (tapi kembali lagi disarikan oleh masing-masing pelaku peristiwa), buat saya, satu minggu pelepasan hak asasi tersebut memiliki tujuan mulia diantaranya; Memunculkan rasa saling senasib sepenanggungan dengan rekan-rekan sejurusan dan atau sefakultas yang nantinya akan menjadi bibit kesetiakawanan dan saling menghormati / menghargai; Memupuk rasa kepemilikan terhadap alma mater, yang nantinya bisa menjadi motivator agar kita berkembang menjadi individu sebaik-baiknya untuk tidak mempermalukan alma mater; Membangun jejaring pertemanan yang nantinya menjadi modal utama berprofesi (duit gak punya, temen punya — asal ujungnya gak jadi duit punya - temen gak punya :().
Nah itu manfaatnya, silahkan cermati sendiri apakah manfaat tersebut sebanding dengan kesia-siaan yang kita lakukan dan kita “paksa” untuk dilakukan.
Hal lain yang harus dipertimbangkan adalah, apakah tujuan tersebut masih sesuai dengan “budaya” yang ingin dikembangkan dan ditanamkan?.. Budaya gotong royong, ramah-tamah, menghormati yang tua, bukannya sekarang tinggal jadi slogan kosong dan kita sama-sama mengalami bahwa budaya tersebut justru menjadi faktor utama penyebab kemerosotan moral bangsa?(baca: kolusi, korupsi, nepotisme). Juga tolong dicermati apakah budaya individualistis dengan mengutamakan kepentingan sendiri demi mengejar kesuksesan pribadi adalah merupakan budaya yang seratus persen buruk?.
Dan terakhir, apakah saya sebagai mahasiswa (dulu) dan calon-calon pengisi kemerdekaan bangsa yang sekarang sedang aktif berkegiatan di kampusnya masing-masing sudah kehilangan kreatifitasnya untuk mengevaluasi kekurangan untuk menciptakan sebuah formula dengan derajat manfaat yang melebihi tingkat kesia-siaannya?..
Adik saya yang paling kecil (nita). sekarang sedang sibuk mempersiapkan kaos kaki panjang merah, topi suster merah, anting-anting dari sedotan merah, name-tag segede gaban, dan besok harus sampai ke kampusnya yang baru pukul 1/2 enam pagi sambil bawa ember merah sebagai pengganti tas. Dilarang salah, disuruh ikut juga salah, semoga dia bisa menarik sari positifnya dan mengevaluasi kekurangannya….



Leave a Reply