Ada ucapan lama yang bilang “..yang penting niatnya..”, bener gak yah?.., mungkin tidak bisa digeneralisasi, seperti banyak hal lain yang juga tidak bisa digeneralisasi. Maksudnya?.. kadang harus dilihat kasus perkasus. Ucapan tersebut mungkin berlaku apabila niat yang kita tetapkan tidak melibatkan atau memberikan pengaruh langsung kepada orang lain. Kenapa? karena ya apapun kemudian yang terjadi dengan niat tersebut, hanya kita yang kena dampaknya.. (baik itu nantinya menguap karena dipanaskan oleh hal-hal lain yang muncul belakangan, atau mungkin niat itu terlaksana…)..
Akan berbeda jadinya kalau niat tersebut memberikan pengaruh langsung kepada orang lain, dan bahkan orang banyak.. jangan-jangan niat baik malah menjadi bumerang dan mendatangkan kecaman dari orang yang terlibat apabila nantinya tidak terlaksana (baik sama sekali maupun tidak terlaksana dengan sempurna)…
Contoh kasus yang saat ini sepertinya tengah dialami oleh istri gua yang berniat untuk turut melayani tuhan dengan menyatakan kesediaan untuk menyediakan makanan kotak dalam rangka perayaan ulang tahun PA di gerejanya…. Seperti yang sebelumnya telah sama-sama kita ingatkan, bahwa niat yang tulus tersebut harus didukung oleh motivasi yang kuat dan ketersediaan sumber daya (dalam hal ini tenaga dan waktu), dia tetap nekat untuk meniatkan hal tersebut.
Ya sudah, sebagai keluarga, apalagi dengan super inisiatif yang selama ini memang ditunjukkan oleh kedua orang tua kami, memang niat tersebut rasanya tidak terlalu muluk. Memasak adalah hobi buat mereka, dan enak juga hasilnya, sehingga hal seperti ini bukan hal berat, dan bukan baru sekali dilakukan.
Tapi mau bilang apa jikalau pada saat-saat kritis ternya muncul banyak halangan yang “tidak biasa” dan akhirnya menghalangi niat baik itu untuk terlaksana dengan sempurna?.. Kiat sebagai pelaku memang tidak bisa bilang apa-apa.. tapi sebagai orang lain, pihak yang dijanjikan, tentu saja berhak untuk berkata apa saja… Hak ini lah yang dapat membalikkan niat baik yang terucap menjadi bumerang … ah semoga saja tidak.. tapi tokh kita tidak pernah akan tahu persis..
Sehingga niat baik kadang tidak hanya penting berhenti disana, pahala yang didapat dengan mengungkapkan niat tersebut tidak akan impas oleh kemalangan yang diderita oleh orang lain.. ini kalau hitung-hitungan ekonomi agamanya…:D, jadi?.. yang penting .. evaluasi..evaluasi.. dan evaluasi… Insya Allah diberkati…
![[?] Joy, Works and Thoughts](http://www.tajidyakub.net/wp-content/themes/freshfolio/images/logo.png)






